Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Nyanyian Rindu

Dia bernyanyi dalam Kerinduan Ditiupkannya alunan dalam hembusan Nafas-nafas angin Membiarkannya pergi menuju hingga sudut-sudut semesta... Dia bersiul dalam keceriaan Dititipkannya syair dalam nyanyian riang kicau burung Membiarkannya terbang bebas hingga menuju awan... Dia menggantang dalam rintik hujan Dialirkannya dalam beningnya air-air yang sama Membiarkannya mengalir hingga ke Samudera... Dia Melantunkan ayat ilahi dalam suara hening mendayu Dipanjatkannya Doa dan pinta dalam tiap sujud Membiarkannya pasrah hingga terijabah...

Hujan Bulan Juni_Sapardi Djoko Damono

tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu Sebuah karya Penyair yang begitu syahdu, mengandung arti yang dalam. Bermakna.. Sebuah syair yang terkirim dari seorang kawan..,entah apa yang dirasakannya. Tersirat. Diam.Tak terungkap. Mungkin ada saat yang tepat tuk menceritakannya... I wiil be Right here Waiting for you..

Delman yang Termarjinalkan

Sejenak mengiring alam pikirku pada masa kanak-kanak di Kota kelahiran. Kotan dengan sebutan  Anging Mamiri, Ujung Pandang. Kota dengan romansa masa kecil. Penuh keceriaan dan keriangan, Apalagi saat mengingat jalan-jalan menggunakan bendi. Sangat teringat sekali saat jalan sore ataupun belanja ke pasar menemani mama Waktu itu Tahun 1989. Menyusuri jalan dari Rumah tepatnya Jl. Perintis kemerdekaan ke pasar Senggol atau ke pasar Terong. Sangat mengasyikkan sambil bernyayi.. “Pada hari minggu ku turut Ayah ke Kota.. Naik Delman stimewa ku duduk dimuka Ku duduk samping Pak Kusir yang sedang bekerja Mengendarai Kuda supaya baik jalannya Tuk…tik…tak…tik…tuk…tik..tak…tik…tik..tuk…tik..tak..tik…tuk.. Tuk…tik…tak…tik…tuk…tik…tak.. Suara Spatu Kuda..” Begitu Kira-kira penggalan nyanyian yang slalu tersenandungkan mengiring perjalanan ketika menumpangi Bendi/Delman. Hehehehe… Tentang Hal ini, siapa yang tak kenal dengan angkutan ini. Angkutan tradisional y

Kejujuran Itu terkikis Zaman

                  Masih ingat kapan kita berlaku Jujur..? Pernahkah kita melakukannya..? Minimal pada diri kita sendiri. Kata ini begitu lekat, begitu dekat dan sangat mudah tuk diucapkan namun begitu  sulit tuk dilakukan dan dipertahankan. Jujur dalam bebagai versi bahasa, inggeris (Honest), Belanda (Eerlijk), Jerman (Ehrlich), Jepang (Shöjikina), Arab (Shiddiq) kesemuanya memiliki arti yang sama ; Lurus hati, tidak berbohong, berkata tentang kebenaran. Namun tindakan ini sudah sangat jarang ditemukan, bahkan sudah menjadi  hal langka.                Berbagai  contoh kasus kerapa kali terjadi, mulai daari diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan masyarakat. Tak dipungkiri itupun di mulai dari hal yang sifatnya kecil karena dianggap remeh. Berkata akan kejujuran bahkan utnuk memperjuangkannya adalah hal yang begitu sulit apalagi bila dalam kasus itu sampai menyeret dan mencoreng nama baik “orang atau golongan” tertentu yang punya “kepentingan”.                   Peristi

Ku bakar Cintaku _Emha Ainun Nadjib

Kubakar cintaku Dalam hening nafasMu Perlahan lagu menyayat Nasibku yang penat Kubakar cintaku Dalam Sampai sunyiMu Agar lindap, agar tatap Dari hujung merapat Rinduku terbang Menembus penyap bayang Rinduku burung malam Menangkup cahaya: rahasia bintang-bintang Kucabik mega, kucabik suara-suara Betapa berat Kau di sukma Agar Hati, agar sauh di pantai Sampai juga di getar Ini

Akan Kemanakah Angin _Emha Ainun Nadjib

akan ke manakah angin melayang tatkala turun senja yang muram kepada siapa lagu kuangankan kelam dalam kabut, rindu tertahan datanglah engkau berbaring di sisiku turun dan berbisik dekat di batinku belenggulah s’luruh tubuh dan sukmaku kuingin menjerit dalam pelukanmu sampai di manakah berarak awan bagi siapa mata kupejamkan pecah bulan dalam ombak lautan dahan-dahan di hati bergetaran

Liburan dan Permainan

Di penghujung tahun ajaran  adalah saat awal dan akhir dari pembelajaran di sekolah. Akhir dari masa-masa sekolah satu tahun atau penamatan setelah melewati ujian semester, tapi awal tuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, apakah itu penaikan kelas, semester baru atau awal masuk perguruan tinggi.  Tentu masa-masa tenggang seperti ini adalah masa tuk melepas penat, refresh sejenak setelah otak berpikir keras tuk menyelesaikan ujian dan segala tetek bengeknya..(akuu bebaaass..) Liburan dan permainan kadang suatu hal sulit tuk dipisahkan. Waktu libur adalah saat tepat tuk bermain. Berbagai hal tentu saja dipersiapkan menjelang liburan. Banyak hal. Pikiranpun bercabang dan melayang Liburan ini kemana ya.. atau apa ya yang bisa dilakukan..?. Bagi sebagian orang yang berduit liburan biasa dimanfaatkan tuk melancong. Entah itu ke tempat wisata atau mengunjungi sanak keluarga yang jauh. kegiatan.sekalian sebagai ajang silaturahim. Tapi sebagian orang

Rintihan Bumi

Ku Telah Tua, Renta… Mungkin Umurku tak lagi lama Waktu t’lah menyapa Dalam sebuah tanda Dahiku t’lah berkerut Tulangku Rapuh Dan Langkahku tak lagi kukuh… Nafasku Asma Sesak.. Karena Kepulan asap Jelaga Panas… Karena ozon tak mampu lagi memayungiku Dahaga…. Karna laut T’lah mengental jadi minyak Paru-paruku basah.. Karna deru Mesin senso yang terus memburu Oooh…. Kemana Hati bertaut Kucari… Kemana sumber mata airku yang bersih nan bening Kemana Rimba dan padang lalangku yang rimbun Ku Letih… Lisanku tak lagi didengar Tersurat tapi terlalaikan Seruanku hanya nyanyian yang meninabobokan Ku pun Jengah Marah… Pada Jiwa-jiwa yang pongah Pada hati yang serakah Pada pikiran yang licik dan tingkah yang membabi buta Oooh ….Sang Penguasa Tak kuat bathinku menangis Tak Kuat Jiwaku merintih… Ku tumpahkan dalam luapan banjir bandang Ku keringkan dlam kemarau panjang Ku kibas dalam semilir tiupan putting beliung Ku Getarkan dalam Gempa Tsunami Ku t

Antah Berantah...

Dipijaknya tanah dalam angan melayang... Bagai menari dalam iringan musik alam dan tiupan saxovon desau angin sepoi-sepoi Yang menghembuskan nafas-nafas mimpi yang tak bertepi Akh... Debur ombak terus menamparnya mengayun, mengiringnya ketepian Membaringkannya di atas pasir Hingga waktu berlalu dicobanya lari Bangun dan bangkit lagi Namun penjara sepi terus mengikuti dalam sepi yang hanya berteman mimpi Tak juanya lelah Merebut hatinya yang merdeka Betoambari Queen,04062011